Selasa, 14 Juni 2011

PT Jamsostek ( Persero ) Maksimalkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

JAKARTA – Pemerintah  telah memberikan perhatian terhadap keselamatan kerja. Hal ini tertuang dalam UU No 1 Tahun 1970 dan peraturan pelaksanaannya yang mengatur tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
              Peran PT Jamsostek pada perlindungan tenaga kerja merupakan tugas pokok sebagai badan penyelenggara, diharapkan PT Jamsostek dapat memberikan perlindungan kepada seluruh tenaga kerja yang ada. Meskipun kepesertaan program Jamsostek bersifat wajib, ternyata cakupan kepesertaan program Jamsostek belum mampu menjangkau seluruh tenaga kerja yang mestinya harus dilindungi.
              Saat ini  peserta Jamsostek, terdiri dari 9,68 juta peserta aktif dan 29,48 juta peserta non-aktif; baru mencakup 38.48 persen dari 103,56 juta tenaga kerja yang ada di Indonesia. Dengan cakupan kepesertaan yang ada saat ini, PT Jamsostek berkewajiban untuk memberikan pelayanan jaminan kepada seluruh peserta dan keluarganya terhadap risiko-risiko sosial, seperti kecelakaan kerja, kematian, hari tua, dan sakit.
Disamping hal tersebut, PT Jamsostek juga selalu berupaya untuk meningkatkan dan memperluas manfaat jaminan. Salah satu manfaat program PT Jamsostek adalah Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). JKK merupakan program Jamsostek yang bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam hal terjadi risiko kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja.
PT Jamsostek sebagai badan penyelenggara program Jamsostek sampai saat ini telah berusaha maksimal untuk memberikan pelayanan JKK dengan manfaat yang optimal,sebagian besar dari kasus-kasus kecelakaan kerja terjadi pada kelompok usia produktif. Kematian merupakan akibat dari kecelakaan kerja yang tidak dapat diukur nilainya secara ekonomis.
Kecelakaan kerja yang mengakibatkan cacat seumur hidup, di samping berdampak pada kerugian non-materil, juga menimbulkan kerugian materil yang sangat besar. Bahkan, lebih besar bila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh penderita penyakit-penyakit serius seperti penyakit jantung dan kanker.
Selama kurun waktu lima tahun terakhir, kasus JKK sangat fluktuatif, terutama tahun 2007 terdapat penurunan kasus 12,46 persen dan nominal pembayaran turun sebesar 1,10 persen. Dari data menunjukkan bahwa rata-rata kasus JKK tidak berubah akan tetapi nominal mengalami kenaikan yang signifikan.
Hampir setiap hari kerja lebih dari 27 TK mengalami cacat. Jumlah ini menurun sebesar 6,84 persen bila dibandingkan dengan kecelakaan kerja yang berakibat cacat pada 2009 sebesar 7.135 TK. Besarnya rata-rata santunan cacat per kasus adalah Rp6.737.647 untuk santunan cacat fungsi rata-rata sebesar Rp5.995.581, santunan cacat sebagian rata-rata sebesar Rp7.172.892, dan Rp59.616.883 untuk rata-rata cacat total.
Dari jumlah total kecelakaan kerja selama 2010 sebesar 2.191 kasus (2,22 persen) di antaranya meninggal, rata-rata setiap hari kerja terjadi lebih dari sembilan kasus meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Periode tahun 2009 sebanyak 2.144 kasus meninggal kecelakaan kerja.Terhadap kecelakaan kerja yang dilakukan perawatan diketahui sebanyak 17.345 kasus dengan jumlah hari perawatan 98.668 hari, jadi rata-rata setiap kasus dilakukan perawatan selama hampir enam hari.
Dari total pembayaran JKK sebesar Rp401,237 miliar komponen biaya perawatan dan pengobatan adalah Rp160,093 miliar (39,90 persen). Persentase ini turun dibanding tahun 2009 mencapai 40,38 persen [ leo-bmb ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar